Spyware Pegasus
74 / 100
Pegasus Spyware Attacks Offices in US Allied Countries

KOMPAS.com – On 2019 then, WhatsApp announced that there are about 1.400 perangkat pengguna di 20 negara yang terjangkit program pengintai (spyware) buatan perusahaan Israel (NSO Group) yang dikenal sebagai Pegasus. Dari ribuan pengguna tersebut, mereka mengklaim bahwa 100 orang di antaranya merupakan perangkat para aktivis, pengacara, jurnalis, dan akademisi. Kini, Head of WhatsApp, Will Cathcart mengungkap informasi terbaru. Ia mengatakan bahwa para pejabat senior di pemerintahan juga menjadi target serangan spyware tersebut. Ia tidak mengumbar berapa jumlah pejabat yang terjangkit spyware tersebut, begitu juga asal negaranya. Yang jelas, beberapa di antaranya disebut bekerja di bidang keamanan nasional di negara-negara yang merupakan sekutu Amerika Serikat (AS). Cathcart turut mengklaim bahwa sebagian besar pengguna WhatsApp yang menjadi korban Pegasus adalah mereka yang biasanya tidak menjaditarget pengintaian”.

Advertisements

even though, NSO Group mengklaim spyware Pegasus dirancang dan dijual kepada para klien mereka untuk mengintai para kriminal dan pelaku kejahatan lainnya.

Bahaya spyware Pegasus Karena dipakai di luar tujuannya, Cathcart mengaku khawatir soal keamanan smartphone pengguna di seluruh dunia. Because, apabila perangkat terinfeksi Pegasus, maka orang yang mengirimkannya bisa menguasai perangkat korban secara diam-diam. Even, orang tersebut bisa melihat riwayat interaksi dan lokasi korban, mengaktifkan mikrofon untuk menyadap pembicaraan korban, serta mengaktifkan kamera untuk mengintai pergerakan korban tanpa diketahui. Kekhawatiran inilah yang membuat WhatsApp menggugat NSO Group pada 2019 then. However, NSO Group mengelak dan berdalih bahwa klien mereka telah menandatangani kontrak yang yang berisi bahwa Pegasus hanya akan menargetkan pelaku kriminal.

NSO Group juga mengatakan mereka tidak mengetahui penggunaan Pegasus oleh masing-masing klien.

Selain langkah hukum, Cathcart mengatakan pihaknya saat ini terus melakukan pendekatan kepada pemerintah di sejumlah negara terkait bahaya dari spyware Pegasus. Ia juga mengajak perusahaan teknologi, salah satunya Apple untuk memperkenalkan efek dari program berbahaya (malware) dan spyware sekelas Pegasus. As known, iPhone sendiri konon rentan terhadap spyware tersebut. “Jika Pegasus menjangkit para jurnalis di seluruh dunia, maka spyware tersebut menjangkit para pembela hak asasi manusia di seluruh dunia, yang tentunya akan berpengaruh pada kita semua,” ujar Cathcart, sebagaimana dikutip KompasTekno dari TheGuardian, Monday (26/7/2021), “Dan apabila ponsel seseorang tidak aman, itu artinya semua ponsel tidak aman,” pungkas Cathcart.

Versi awal Pegasus ditemukan pada 2016 lalu.Spyware bekerja menginfeksi ponsel lewat apa yang disebutspear-phishing atau kiriman pesan teks atau email yang menjebak target dengan cara mengklik link jahat di dalamnya.

Sejak itu, kemampuan menyerang yang dikembangkan NSO Group diyakini telah jauh lebih maju. Infeksi Pegasus bisa terjadi melalui seranganzero-clickyang tidak lagi membutuhkan interaksi dari pemilik ponsel. Cara-caranya kini akan lebih kerap mengekploitasi kerentananzero-day‘, yakni lewat cacat atau bug bawaan dalam sebuah sistem operasi yang tidak diketahui si pembuat ponsel, dan karenanya tidak mampu diperbaiki.

On 2019, WhatsApp mengungkap kalau NSO itu telah digunakan untuk mengirimmalware kepada lebih dari 1.400 ponsel lewat cara barunya tersebut. Hanya dengan menempatkan sebuah panggilan WhatsApp ke perangkat yang dibidik, kode jahat Pegasus bisa langsung ter-install, bahkan tanpa si pemilik ponsel perlu menjawab panggilan itu.

Latest, NSO telah mulai mengeksploitasi celah-celah disoftware iMessage milik Apple, membukakan akses backdoor ke ratusan juta iPhone yang ada saat ini. Apple menyatakan terus memperbarui perangkat lunaknya untuk mencegah serangan-serangan Pegasus ataupunspyware other.

Pemahaman teknis dari Pegasus, dan bagaimana menemukan bukti infeksinya pada sebuah ponsel, telah dikembangkan lewat riset laboratorium Amnesty International yang berbasis di Berlin, Jerman. “Segala sesuatunya kini menjadi jauh lebih kompleks untuk diperhatikan oleh mereka yang ditarget,” kata Claudio Guarnieri, yang mengelola laboratorium itu.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Pegasus Spyware Attacks Offices in US Allied Countries”, Klik untuk baca: https://tekno.kompas.com/read/2021/07/26/17100087/spyware-pegasus-serang-pejabat-di-negara-sekutu-as?page=2.
Writer : Bill Clinten
Editor : Yudha Pratomo

Advertisements

Download aplikasiKompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L

Advertisements

 7,531 total views,  6 views today

By admin

Writer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *